Frida's blog

Sehat itu Mahal !!

Gastritis Akibat Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak

Filed under: Gastritis — FRIDA AGUSTIANI FRIDA AGUSTIANI at 3:25 am on Sunday, October 31, 2010

Epidemiologi

Helicobacter pylori tidak berada di dalam mukosa gaster tetapi pada lapisan mukus yang melapisi mukosa. Gaster manusia merupakan satu-satunya reservoir untuk H. pylori, sehingga transmisi utama kuman ini adalah gaster manusia satu ke manusia lain. Terdapat tiga kemungkinana cara penularan penyakit ini, yang pertama adalah transmisi fekal-oral, oral-oral yaitu pada saat orang dewasa memberikan makanan pada anaknya, dan kemungkinan terakhir adalah iatrogenik pada tube endoskopi yang mengandung kuman H. pylori (Caroll 2002).

Patogenesis

Gastritis merupakan suatu gangguan pencernaan yang umum terjadi. Penyakit ini merupakan suatu iritasi atau peradangan pada dinding mukosa lambung sehingga menjadi merah, bengkak, berdarah dan luka. Radang lambung dapat berupa serangan akut atau gangguan kronis. Serangan akut terjadi mendadak misalnya setelah minum alkohol, kopi, makanan berbumbu banyak atau yang susah dicerna. Mukosa gaster sangat terlindungi dari infeksi bakteri, tetapi bakteri H. pylori mampu beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Bakteri ini dapat masuk ke dalam lapisan mukus dengan caranya yang unik, kemudian melakukan perlekatan dengan sel epitel, evasi respon imun dan akhirnya kolonisasi dan transmisi persisten. Setelah masuk ke dalam gaster bakteri tersebut harus melawan aktivitas asam untuk masuk ke lapisan mukus. H. pylori menyebabkan continuous gastric inflammation pada setiap individu yang terinfeksi.

Gastritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya terlalu banyak makanan yang mengiritasi lambung seperti yang pedas, asam, minuman beralkohol, obat-obatan seperti aspirin (dosis tinggi), kortison, kafein, kortikosteroid; adanya stress dan tekanan emosional yang berlebihan pada seseorang; adanya asam lambung yang berlebihan; waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan, atau makan berlebihan; tertelannya substansi/zat yang korosif, seperti alkali, asam kuat, cairan pembersih kimiawi, dan lain-lain (Alpha et. al 2006).

Gejala klinis

Gejala dari penyakit radang lambung umumnya, yaitu mual dan sering muntah agak asam. Kondisi berat pada lambung mungkin dapat mengelupas sehingga mengakibatkan muntah darah perut terasa nyeri, pedih, kembung dan sesak (sebah) pada bagian atas perut; napsu makan menurun drastis, wajah pucat, keringat dingin, pusing; sering sendawa terutama bila dalam keadaan lapar; sulit tidur karena gangguan rasa sakit pada daerah perut sebelah atas (ulu hati). Radang lambung kronis gejala yang ditunjukan lebih ringan, seringkali gejala menjadi samar, seperti tidak toleran terhadap makanan pedas atau berlemak atau nyeri ringan yang akan hilang setelah makan (Alpha et. al 2006).

Helicobacter pada anak lebih sering berhubungan dengan manifestasi klinis. Infeksi H. pylori pada anak sebagian besar asimtomatis atau memperlihatkan gejala saluran cerna yang tidak spesifik. Infeksi H. pylori pada anak lebih sering berhubungan dengan gastritis dibanding ulkus peptikum. Keluhan yang sering disampaikan anak adalah nyeri di daerah epigastrum, terbangun pada malam hari, dan sering muntah. Sakit perut pada anak sering dianalogikan dengan dispepsia non ulkus pada orang dewasa. Refluks gastroescovagus dan gagal timbuh merupakan, dua keadaan lain yang pernah dilaporkan pada anak terinfeksi H. pylori. Gastritis  sering memperlihatkan keluhan dakit perutberulang pada anak, oleh karena itu sakit perulang pada anak dianggap sebagai gejala klionis yang berhubungan dengan infeksi H. pylori. Beberapa gejala kilinis dianggap sebagai symptoms seberti malabsorbsi dengan penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan, anemia defisiensi besi, diare berulang, dan malnutrisi. Semua individu yang terkena infeksi kuman ini akan mengalami radang lambung yang kronik dan menetap (persisten), namun pada sebagian besar kasus nampaknya tidak  morbiditas maupun mortalitas yang berarti (Alpha et. al 2006).

Tips

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah radang lambung, antara lain: konsumsi makanan yang lunak/lembut; hindari makanan yang mengiritasi lambung, seperti pedas, asam, alkohol, kafein, rokok, dan aspirin; tidak terlambat makan atau makan berlebihan; makan sedikit-sedikit tapi sering; usahakan buang air besar secara teratur; menggunakan air bersih dan santasi yang baik; memasak makanan dan air minum hingga matang; mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan; dan menghindari makanan yang telah tekontaminasi oleh lalat (Alpha et. al 2006).

Tindakan yang dapat dilakukan

1. Pemberian Cairan

Pemberian cairan merupakan tindakan awal yang dapat dilakukan. Sebaiknya diberikan cairan yang mengandung elektrolit atau yang dikenal sebagai Oralit.

Kecepatan pemberian cairan terutama pada 6 jam pertama berguna untuk mengatasi cairan yang keluar dan mencegah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan). Pemberian cairan dihentikan bila jumlah diare dalam 6 jam terakhir kurang dari 200 cc dan tanda-tanda dehidrasi sudah hilang.

2. Pemberian Makanan

Selama pemberian cairan, makanan cair seperti bubur cair, kaldu, atau bubur saring boleh diberikan, tetapi sayur (serat) dapat diberikan apabila keadaan akut sudah teratasi dan pemberian serat dapat diberikan secara bertahap sampai dengan pemberian makanan biasa.

3. Pemberian Obat

Bila gastroenteritis disebabkan oleh infeksi atau investasi parasit, maka diperlukan pemberian obat, segera ke puskesmas, ke dokter, atau ke Rumah Sakit untuk pengobatan dan penanganan selanjutnya (Alpha et. al 2006).